Tahun 2011 ini meninggalkan kesan yang baik buat saya, bukan karena saya telah lulus dari kampus terkutuk, tapi masih ada hal yang jauh menyenangkan dari itu. Dimulai dari hal yang saya sukai, musik. Jangan berpikir tentang kisah cinta Anang-Krisdayanti_Raul Lemos-Syahrini yang absurd sehingga melahirkan lagu yang absurd pula. Ini tentang pergerakan semangat bermusik para musisi dibelahan dunia sana. Pergerakan musik diera 90an, hingga publik pun menyebutnya Britpop. Kalau bisa dibilang genre, Britpop adalah genre musik yang saya sukai.
Di era sekarang, mungkin Britpop telah pudar, tidak sedikit band beraliran Britpop telah vakum, atau bahkan bubar. Entah mengapa di tahun 2011 ini, para punggawa Britpop terlihat produktif hingga banyak dari mereka mengeluarkan album ditahun ini. Bukan hanya album, band Britpop yang dinyatakan bubar pun kini membuat reoni dan melakukan tur. bahkan di Indonesia.
Dimulai dengan Beady Eye, band Liam Gallagher dan dua mantan anggota Oasis yang mengeluarkan album Different Gear, Still Speeding di awal tahun. Liam dan teman-temannya sepakat membuat band baru pasca bubarnya Oasis. Tadinya Liam sempat menamai band barunya itu Oasis 0.2, tetapi dia mengurungkan niatnya dan menamai band barunya Beady Eye. Bukan Liam kalau tidak sesumbar mengenai band barunya. Dia bilang dengan band barunya ini, dia akan memecahkan rekor album terbaiknya Oasis, Definitely Maybe. Hasilnya? Tidak mengecewakan, meski tidak sesukses Definitely Maybe, Beady Eye mengalami banyak perubahan. Dilihat dari berbedanya musik waktu di Oasis dulu yang terdengar pop dan rock, Beady Eye hadir dengan musik rock n roll. Meski dibeberapa lagu ada sound yang mirip dengan The Beatles dan Oasis. Hal itu tidak bisa dipungkiri karena mungkin karakter musik Oasis masih melekat pada mereka.
Band Inggris berikutnya yang merilis album adalah Radiohead. Thom Yorke sendiri sebenarnya tidak mengakui bahwa bandnya itu Britpop, biar publik saja yang menilai. Tetapi Radiohead hadir di era dimana musisi Inggris menginvasi dunia musik sehingga melahirkan musik Britpop., sehingga publik menempatkan Radiohead dijajaran musisi Britpop. Sebenarnya saya kurang suka mendengarkan Radiohead setelah album mereka yang sangat terpuji, Kid A. Saya mengagumi musikalitas Radiohead, dimana mereka bilang “pasar itu bisa diatur” yang berarti bahwa selera musik pasar itu musisi yang mengatur bukan produser. Radiohead bereksplorasi jauh lebih dalam dari band Inggris lakukan. Sehingga albumnya saat ini, The King of Limb jauh dari catchy. Jangan harap ada lagu yang membuat kalian ber sing-a-long atau sekedar bersenandung. Anda akan disajikan dengan musik berat yang mungkin akan memahami musiknya bila anda giting atau mabuk. Jika subtitusi absurd itu adalah keren maka Radiohead membuat album terkeren di 2011 ini.
Arctic Monkeys adalah band Inggris jenius generasi masa kini yang dapat meramu unsur musik Inggris 90an dan musik kekinian. Setelah kesuksesan album Humbug di tahun 2009 (dan album-album sebelumnya) Arctic Monkeys Membuat Suck It And See di 2011. Berbeda di album Humbug sebelumnya yang berat, Suck It And See hadir lebih ringan. Musik yang mereka mainkan di album ini juga sedikit berbeda. Meski terdedengar sound yang memcirikan Arctic Monkey sekali. Kover album ini yang membuat saya terggelitik. Begitu sederana untuk sebuah karya jenius. Seolah berkata untuk orang yang menanyakan apa makna dibalik kovernya, dan mereka pun menjawab “Suck It And See”.
 |
| cover album Suck it and see |
|
Kasabian menambah daftar panjang band Inggris yang membuat album di tahun ini. Mereka membuat Velocityraptor! Yang gahar. Band yang mempunyai hubungan dekat dengan Oasis ini merubah arasemen lagunya menjadi lebih liar. Liam berkata (sebelum membentuk beady Eye), “di zaman sekarang, band rock terbaik itu hanya ada dua, Oasis dan Kasabian saja”. Meski terdengar sombong hal ini dibuktikan dengan albumnya yang sekarang. Mereka meramu musik sehingga dialbum ini dapat terdengar nuasan purbakala.
Gorillaz, band animasi yang vokalisnya mirip seperti Andika kangen band merilis album The Fall pertengahan 2011. Band ini dibuat oleh vokalis Blur,dan juga rival abadi Noel Gallagher dari Oasis, Damon Albarm. Damon mengungkapkan ini album terakhir Gorillaz. Sepertinya Damon sudah bosan dengan Gorillaz, dan mulai focus bersolo karir. Damon dikenal sebagai salah satu musisi jenius abad 21. Tidak sedikit musisi yang mengatakan hal yang serupa. Kejeniusan Damon bisa dilihat di album Gorillaz ini, dimana dia menggarap album ini hanya dengan satu perangkat saja, iPad.
Seperti yang dijelaskan di paragraf sebelumnya, musisi Inggris tidak hanya menghasilkan album saja. Suede adalah contohnya. Dimulai dari Suede, band yang tidak sengaja mempopulerkan istilah Britpop ini bubar 2003 silam. Personilnya pun meyebar di bebagai negara. Niat reoni mereka diawali dengan Brett Anderson sang vokalis yang mengalami masalah ekonomi. Dia ingin mendapatkan penghasilan kembali setelah uang yang dihasilkan dari Suede sudah semakin menipis. Dia akhirnya berencana reoni, teman-temannya pun menyepakatinya. Tapi dia merasa tidak terhormat kalau uang yang mereka hasilkan itu dari reoni mereka. Akhirnya mereka melakukan reoni untuk mengisi acara amal. Sesudah melakukan hal yang menurut mereka baik, mereka melakukan tur dunia. Indonesia cukup beruntung menjadi negara yang dikunjunginya. Bahkan dua kali!
Sayangnya konser kedua yang mereka lakukan disini ada beberapa kendala. Sponsor yang mendatangkan mereka adalah merk ponsel yang banyak digandrungi remaja masa kini. Untuk mendapatkan tiketnya cukup berbelit, yaitu dengan cara membeli tipe ponsel ponsel tertentu, maka akan mendapatkan tiketnya. Tetapi tiketnya bukan secarik kertas seperti tiket pada umumnya. Melaikan berupa data yang akan dikirimkan dengan perantara ponsel tersebut.. Hal ini tentu membuat orang yang ingin menonton konser mereka kesusahan. Bagaimana dengan orang yang sudah memiliki ponsel dengan tipe tersebut? Apa harus beli lagi? Belum lagi dengan konsernya yang tabrak genre, ternyata selain Suede, promotor membawa artis dari Korea. Brett Anderson pun menyatakan keluhannya di atas panggung.
Suede bukan band Britpop satu-satunya yang datang ke Indonesia ditahun ini. Happy Monday juga berkunjung ke Indonesia. Mereka datang untuk acara pesta rock 3 hari, Java Rockin’ Land. Berbeda dengan konser Suede, konser Happy Monday sangat gampang untuk dihadiri. Dan, bukan Suede pula band Inggris yang reoni di tahun ini. Ada The Stone Roses, band Inggris generasi ke dua. Bersama The Smith dan The Cure, The Stone Roses adalah pelopor musik yang kelak di tahun 90an disebut Britpop. Band Inggris yang reoni berikutnya adalah Black Sabbath. Band yang terbentuk ditahun 1969 dan vakum di tahun 2006 ini bangkit dari tidur panjangnya. Bahkan kabarnya, saat ini mereka telah memasuki studio rekaman. Black Sabbath adalah salah satu band yang sangat perpengaruh di dunia. Contoh besarnya adalah bila tidak ada Black Sabbath, maka tidak ada heavy metal.
Dipertengahan tahun, ada Coldplay yang merilis album Mylo Xyloto. Sebuah album yang tanggung dan terkesan buru-buru di buat oleh Chris Martin dan kawan-kawan. Album ini terlihat sisa dari eksplorasi Coldplay di album yang mungkin suatu saat menjadi karya terbaiknya Viva La Vida. Sepertinya Chris Martin ingin seperti Thom Yorke dengan mencoba bereksplorasi dengan instrumen-instrumen lain. Tetapi Coldplay lebih bermain aman dan lebih enak didengar. Jujur saya malah merindukan Coldplay di era album Parachute dibanding album tahun ini.
Pertengahan tahun 2011 disemarakan juga oleh album Noel Gallagher. Setelah perpecahan Oasis yang diawali dengan pertikaian dia dan adiknya, Leader Oasis ini mencoba bersolo karir dengan nama Noel Gallagher's High Flying Birds, dan albumnya High Flying Birds. Noel mengaku bahwa materi album ini adalah materi yang sama album Oasis era Definitely Maybe dan (What's The Story) Morning Glory? dimana era tersebut adalah era terbaiknya Oasis. Sebelum album ini di rilis, dia melempar videoklip “The Death You And Me” dengan konsep bersambung. Tidak tanggung-tanggung, selain merilis album, dia juga merilis 2 single, satu vinyl dan satu lagu B-side yang semuanya saling melengkapi di High Flying Bird. Di album ini terdapat lagu yang sama dengan lagu Live Forever dan Champaign Supernova. Sebuah lagu yang membuat Noel di juluki “Chief” bahkan “God”.
Akhir tahun 2011 ditutup oleh album National Treasures (The Compelete Single) oleh Manic Street Preachers. Album ini berisikan 38 lagu dari 9 albumnya selama 19 tahun berkarya. Manic Street Preachers dikenal dengan musik rock atau indie pop yang liriknya sangat provokatif. Dalam segi musik, 2011 sangat menyenangkan buat saya. Disamping musisi internasional, musisi dalam negeri pun banyak membuat album yang saya sukai di tahun ini. Semoga 2012 nanti Blur jadi reoni dan membuat album baru. Atau bahkan Oasis yang reoni? Kalau pun 2012 kiamat seperti yang diisukan, setidaknya saya sudah mendegar album baru Blur.