Sabtu, 24 Desember 2011

Review Album Coldpaly - Mylo Xyloto

Coldpay

Mylo Xyloto

Parlophone; 2011 

 

 

Pertannyaan pertama setelah saya mendengar album ini adalah. mau dibawa kemana musik Coldplay? Musiknya benar-benar berubah. Meskipun begitu, itu bukan menjadi masalah bagi telinga saya karena perubahan ekstrem Coldplay di album sebelumnya, Viva La Vida cukup bisa saya terima meski butuh adaptasi sejenak untuk mengenali musik jenis baru mereka. Hal ini juga terjadi dan serupa seperti apa yang dilakukan salah satu band papan atas dunia lainnya yaitu Radiohead. Tetapi perbedaannya jika Radiohead bermain lebih ke arah eksperimental dan abstrak sedangkan Coldplay bermain di area elektronik yang lebih aman. Sentuhan symphony dan elektronik ala dubstep ikut juga mewarnai album Mylo Xyloto ini. Coldplay masih menggunakan konsep yang sama di album Viva La Vida, dengan menambah beberapa instrumen di tiap lagunya. Sayangnya album ini terlihat seperti sisa eksplorasi Coldplay di album sebelumnya.  Polemik seperti ini memang sering terjadi pada semua band ketika mereka melakukan perubahan bermusik. Apalagi buat para pendengar  yang mungkin suka Coldplay karena  musik yang mereka bawakan dahulu. Sebenarnya itu bukan menjadi masalah ketika Coldplay menawarkan sesuatu yang baru dengan materi yang baru tetapi tidak jelek bahkan bisa dibilang bagus. Meskipun begitu, perubahan cukup bisa diterima ketika perubahan itu sangat mudah diterima oleh telinga. Lain halnya ketika perubahan itu sangat jauh dengan konsep mereka terdahulu, dan susah dinikmati oleh pendengar awam. Symphony Mylo Xyloto menjadi intro di album ini, seolah menandakan perubahan drastis dari Coldplay,Dilanjutkan dengan Hurts Like Heaven yang di isi instrumen-instrumen sehingga terdengar nuansa oriental.  yang cukup disayangkan adalah lagu dengan featuringnya denga Rihana, Princess In China. Seperti mendengar duet Chris Martin dan Rihanna saja. Entah apa yang ada di benak Coldlplay sehingga menggandeng Rihanna di lagunya. Apa ini sebuah langkah awal Coldplay yang mulai masuk mainstream sehingga menggandeng Rihanna yang notabenya penggiat R n B mainstream. Menjelang akhir symphony Mylo Xyloto, sebuah trilogy dimainkan secara apik oleh Coldplay. Dibagian pertama adalah interlude bertajuk A Hopeful Transmission yang disuarakan sebelum menyambut Don't Let It Break Your Heart yang cukup membuat saya bersemangat kembali untuk mendengarkan Coldplay sampai tuntas. Sungguh sebuah track yang menghabiskan tenaga karena lumayan bisa buat headbanging sambil melayang diudara sebelum ditutup oleh ending yang lumayan adem yaitu Up With the Birds yang mengajak saya terbang bersama Coldplay bersama burung diudara. Jujur, sayang rindu musik Coldplay di era Parachute. Sebenarnya Mylo Xyloto adalah album yang bagus dari Coldplay, sayangnya album ini lahir setelah Viva La Vida yang mungkin bisa dinobatkan sebagai album terbaik Coldplay. Album ini juga masih memakai materi yang sama dengan album Viva La Vida, ehingga orang orang selalu membandingkan album ini dengan album Viva La Vida yang kalau dibanndingkan memang masih kurang berkualitas. Anggapan orang yang selalu membandingkan album ini dan album sebelumnya bisa dilihat di review ini. Entah mengapa saya menulis Viva La Vida lebih banyak dari Mylo Xyloto itu sendiri.

Bayi Yang Menjadi Kover Album... Kini II

6. Blind. Melon Melon Blind

 tampang dia sekarang:


Heather DeLoach, sekarang umurnya 28, tinggal di California dan bekerja sebagai seorang aktris . dia juga pernah main film judulnya no rain di tahun 1992.

7. Illmatic Nas


 tampang dia sekarang:



Gambar di album ini sebenarnya adalah Nas berusia 7 tahun. Dia terus menjadi salah satu rapper yang dihormati dan populer. 

8. Violent Femmes - Violent Femmes

  
tampang dia sekarang:
9. Billie Jo - Campbell


tampang dia sekarang:
Keithroy Yearwood dibayar dollar $ 150 untuk berada di cover album itu . Dia terpilih karena rambut "afro raksasa"nya. Lagu pavorit nya Biggie Juicy lagu dan Big Poppa.

10. Papa Roach - lovehatetragedy


tamapang dia sekarang:
Ternyata bayi di cover paparoach itu adalah anak laki-laki dari dave bucker (drummer paparoach) dia yg memberi ide untuk menjadikan anak nya sebagai cover album tersebut . maksud dari cover itu adalah bayi terlahir dgn pandangan terbuka .

Bayi Yang Menjadi Kover Album... Kini I

Dimasa kecil anak - anak ini, entah faktor keberuntungan atau kesempatan mereka tampil untuk menjadi sampul di album musik - musik legendaris dunia, seiring tahun lagu - lagu dari band - band top dunia ini masih dinyanyikan, tapi tahukah anda bagaimana dengan nasib bayi - bayi yang dulu menjadi cover albumnya di saat ini?

1. Nevermind - Nirvana

tampang dia sekarang:


Spencer Elden difoto untuk album seharga $ 200. Dia sekarang magang di studio Shepard Fairey's Obey Giant, kini dia memainkan musik emo.
2. A Boy Named Goo - Goo Goo Dolls


tampang dia sekarang:
Carl Gellert dibayar dollar $ 6000 untuk tampil di album. Dia sekarang masuk sekolah pascasarjana untuk sejarah seni.

3. Siamese Dream - Smashing Pumpkins


 tampang mereka sekarang:



Nicole Fiorentino :
Dulu jadi model cover album sekarang doi jadi personil nya gan . tahun 2010 resmi di rekrut smashing pumpkins (menggantikan Jahe Pooley) sebagai bassist resminya .

4. Tha Carter III - lil Wayne


tampang dia sekarang:

photo Lil Wayne masih kecil di jadikan cover album . lil wayne memang terkenal gara-gara menjadi penyanyi  tapi pada usia sembilan, Lil Wayne bergabung Cash Money Records sebagai anggota termuda dari label, dan setengah dari duo, The BG'z , dengan BG .Pada tahun 1997, Lil Wayne bergabung dengan kelompok Hot Boys , yang juga termasuk rapper Juvenile , BG, dan Turki .sebagian besar sukses dengan besar penjualan album kelompok Guerrilla Warfare , dirilis pada tahun 1999. Lil Wayne merilis Platinum nya debut album Tha Block Is Hot , menjual lebih dari satu juta kopi di Amerika Serikat. 

5. Korn - Korn

tampang dia sekarang


Justine Ferrara dibayar dollar $ 400 sampai berada di sampul debut Korn's. Dia baru saja lulus dari NYU dan,ampe sekarang dia belom denger lagu korn

Rockstar Dan Gelar Akademik

Mungkin masih ada saja orang yang selalu melihat orang lain dari luarnya saja. Contoh nyatanya saja bila melihat musisi. Lusuh-urakan-semerawut-kasar... Mungkin seperti itulah image rockstar, Memang suatu kepintaran seseorang tidak diukur dari tingkat pendidikannya. Tapi tahukah kalian bahwa ada banyak rockstar yang memiliki niai akademik tinggi, ber IQ diatas rata-rata, dan bergelar profesor? Berikut adalah  beberapa rockstar yang begelar akademik versi Rezky:

1. Milo Aukerman
Aukerman ,seorang lead vokal band rock Descendents, mempunya gelar Ph.D dan peneliti di bidang Biokimia (biochemistry) dari Universitas Wisconsin.









2.  Dexter Holland
Bryan Keith Holland (IQ: 170) dulu adalah siswa SMA dengan ranking tertinggi seangkatannya atau valedictorian. Lead vokal band The Offspring ini mendapatkan gelar Master dan Ph.D. di bidang Molecular Biology dr Universitas Southern California . Sayang gelar tersebut tidak terlalu dihiraukan dan fokus pada bandnya.






3. Greg Graffin
Dr. Gregory Walter Graffin III, Vokalis band punk rock Bad Religion. Punya 2 gelar sarjana dr UCLA (University of California) jurusan Antropologi dan Geologi. Kemudian mencapai gelar Master dari kampus yangg sama lalu pindah ke Cornell University dan mendapatkan gelar Ph.D. Sekarang menjadi seorang profesor life science di UCLA.





4. Tom Scholz
Sebelum menjadi gitaris grup Boston, Tom Scholz sudah mempunyai gelar Sarjana dan Master dari jurusan Teknik mesin (Mechanical Engineering) dari Massachusetts Institute of Technology. Dia juga bekerja sebagai senior design produk di Polaroid Corp.






5.  Tom Morello

 Morello (IQ: 148) gitaris Rage Against The Machine dan Audioslave adalah sarjana lulusan Universitas Harvard di bidang Political Science. Dia adalah siswa pertama di SMAnya yang di terima masuk HARVARD. Dia pernah jd exotic dancer  setelah lulus kuliah.
6. Jeff "Skunk" Baxter

Gitaris Steely Dan dan The Doobie Brothers adalah seorang smart rocker. Expert di sistem persenjataan, menulis makalah tentang missile defense( sejenis sistem pertahanan persenjatan rudal atau bom).Menjadi chairman pada Congressional Advisory Board on Missile Defense serta menerima bayaran besar sebagai konsultan untuk Departemen pertahanan Amerika dan beberapa kontraktor sejenis. April 2005, bergabung dengan NASA Exploration Systems Advisory Committee (ESAC),




7. Brian May

Brian Harold May atau Dr. May , Gitaris band Queen (UK) punya gelar Ph.D Astrofisika dan rektor Universitas John Moores Liverpool mengantikan rektor sebelumya Cherie Booth QC (istri PM Inggris T. Blair).











8. Bruce Dickinson

Bruce Dickson, adalah vokali dari band metal Iron Maiden. Dia juga seorang juga seorang penggemar buku kelas kakap, penulis dan atlet anggar dengan reputasi internasional dan seorang pilot. Iron Maiden mempunyai pesawat pribadi yang dikemudikan langsung oleh sang vokalis bila bereka tour dunia.






9. Jim Morrison









Jim tumbuh menjadi remaja yang seperti memiliki kepribadian ganda. Di satu sisi, dia merupakan seorang anak yang cerdas, mempunyai daya tarik, serta berperilaku santun. Tapi di satu sisi lain, dia bisa membuat orang lain terperanjat dan ketakutan karena gaya bahasa yang tidak sopan dan sering bertingkah kasar, terutama pada adik lelakinya..
Pada tahun 1964, di umurnya yang ke 21, Jim mulai berkuliah di UCLA mengambil jurusan Sinematografi. Di fakultasnya, terdapat beberapa sutradara papan atas – termasuk Stanley Kramer dan Josef Von Sternberg. Sedangkan sutradara legendaris Francis Ford Coppola merupakan teman satu angkatan Jim disana (hal. 68). Di UCLA pula, Jim berteman dengan Ray Manzarek, seorang sarjana ekonomi yang juga mantan pemain piano di Angkatan Darat yang keluar dari kesatuannya dengan cara berbohong kalau dia adalah seorang gay. Jim dan Ray lantas sepakat membuat sebuah band rock. Band ini dinamakan The Doors, yang diinspirasi oleh penggalan kalimat dalam puisi William Blake, The Marriage of Heaven and Hell, “If the doors of perception were cleansed, everything would appear to man as it truly is, infinite.” (hal. 72).

10. Sharon den Adel

Sharon den Adel, vokalis band Symphonic Metal dari Belanda, Within Temptation, Bachelors Degree in Fashion Management dan seorang perancang busana yang hebat.





Beberapa musisi yang saya tulis diatas menepis image seorang rockstar itu slengean dan tidak berpendidikan. Memang masih  banyak musisi yang mempunyai gelar sarjana bermacam-macam. Padahal bila berpikir lebih jauh, bagaimana  bisa musisi itu di cap tidak berpendidikan padahal dia menciptakan karya indah berupa musik.

Rabu, 21 Desember 2011

review album Lou Reed & Metallica - Lulu

 

 Lou Reed & Metallica

Lulu

Warner Bros.; 2011 

 

 

 

 

Keduanya adalah band yang melegenda. Lou Reed yang salah satu personilnya mantan band legendaris The Velvet Underground, sedangkan Metallica berkali-kali menghasilkan album yang penjualannya mencapai platinum. Kesamaan band ini adalah keduanya suka berpakaian hitam, keduanya suka difoto oleh Anton Corbijn, keduanya suka mengasingkan fans dan keduanya sering dianggap bajingan.  Kedua band legendaris ini bersatu membuat album konsep berdasarkan sebuah drama klasik karya Frank Wedekind. Lalu bagaimana hasilnya? Seperti mendengar band metal abal yang baru memasuki studio rekaman yang abal-abal juga. Lou Red bernyanyi seperti Johnny Rotten yang sayangnya suaranya terdengar seperti kakek-kakek. Belum lagi liriknya  yang sok edgy dan kontroversial tapi tetap saja terdengar konyol. Seperti apa yang James Hetfield kumandangkan “I am the table!” di lagu “The View”. Wat Tje Fuk? Jadi dia sebuah meja? Tetapi Reed bisa menjelma menjadi seorang Jack The Ripper di lagu Dragon: “I’m clawing your chest ’til your collarbone bleeds/Piercing your nipples ’til I bite them off”. Entah Entah Lou Reed yang tidak mampu menyamai riff-riff bertenaga yang dilemparkan Metallica, atau justru Metallica yang tidak mampu mengiringi Lou Reed dengan benar. Seperti tidak ada chemistry, seolah mereka hidup di planet yang berbeda. Metallica telah mengambil jalan di luar apa yang banyak berpikir mereka mampu, tetapi saya memuji Lou Reed dan Metallica lakukan untuk mencoba sesuatu yang baru dan keluar dalam “kotak”, meski hasilnya jauh dari kata bagus.

Selasa, 20 Desember 2011

Turning Point Part II


Untuk kehidupan pribadi, 2011 meninggalkan kesan yang baik buat saya. Mulai dari lulusnya saya, sebenernya, saya sih menanggapi biasa aja soal kelulusan. Yang bikin saya senang adalah saya udah ga ada urusan dengan kampus terkutuk itu. Meski tetep aja masih direpotkan dengan urusan ijazah dan tetek bengeknya. Bayangkan, selang 1 bulan kelulusan, ijazah baru bisa diambil. Itu berarti saya harus balik lagi ke Purwokerto buat ngambil ijazah. Begonya lagi, transkip nilai baru bisa diambil satu bulannya lagi karena harus nunggu rector yang naik haji dulu. Wat Tje Fuk…
Titik balik kehidupan saya justru setelah saya lulus. Aktifitas saya pasca lulus bisa dikatakan itu-itu aja. Tidur, makan, berkembang biak, main. Sampai akhirnya ada teman saya yang menghubungi via bbm malem-malem. Rizky Akbar, teman-teman biasa memanggilnya Kibot. Seorang photografer handal yang sering mengeluarkan kata-kata galau diakun twitternya. Penampilan fisiknya yang kecil seolah menyembunyikan besarnya ide dan ambisi yang ada dikepalanya. Hal itu bisa dilihat ketika dia mengubungi saya malam-malam buta.
Kibot mengajak saya untuk bergabung membuat newslatter bikinan dia dan temannya.  Saya sangat antusias menanggapinya. Memang dari dulu saya mau membuat sesuatu yang berkaitan dengan ini. Cuma belum menemukan orang yang tepat, Sepertinya Kibot mempunyai kendala yang sama. Akhirnya saya bersedia bergabung buat proyek newslatternya. Kibot menjelaskan newslatter ini adalah buah pikiran dia dan temannya waktu berada di kafe kopi. Rencananya konten newslatter berisikan musik, buku, film, artwork dan kultur yang berada di Cirebon.yang dikemas dengan sudut pandang beda. Belum ada pencapaian, hanya sekedar memberi wawasan lebih kepada pembaca nantinya.
Belakangan, saya baru tau kalo orang yang berencana membuat newslatter bersama Kibot ini adalah orang dulu saya kenal. Luki Ferdianto. Saya kenal dia tiga tahun silam, sewaktu kami bimbel ditempat yang sama. Ironisnya, kalau negara ini berselisih dan ribut karena hal agama, saya disatukan Luki oleh video bokep. Jadi yang mengakrabkan kami adalah bokep yang selalu kami tonto disela-sela bimbel. Saya baru tau kalau Luki seorang desainer dan owner Premium Distro Beauty Madness. Itu berarti sosok Luki bisa mengisi rubik fashion untuk newslatter kami. Sedaaap…
Kibot menenalkan sahabatnya, Dzaki Auditama kepada saya. Dia bilang kalo Dzaki juga sudah dari dulu mau membuat media seperti ini. Tapi terbentur oleh masalah klasik seperti yang sudah-sudah, kurang orang. Pengetahuan Dzaki tentang musik cukup luas, khususnya soal band indie local. Dia banyak mereferensikan band indie berkualitas yang namanya belum terangkat ke permukaan… atau sayanya aja yang kuper? Sudahlah.
Merasa masih kurang orang, teman saya sejak kecil, Jemi Alpian mengenalkan teman saudaranya yang sepertinya satu isme seperti kami. Ricky Pradipta. Seorang yang berpenampilan punk, karena terinspirasi dengan sosok band idolanya, Green Day. Berbanding terbalik dengan image punk yang urakan dan cuek, ternyata dia juga hobi mengoleksi buku. Lucunya saya dan Ricky mempunyai latar belakang kehidupan yang sama. Mulai dari kuliah dikesehatan karena disuruh orang tua yang konservatif. Hingga diarahkan bekerja menjadi PNS karena orang tua menganggap PNS itu sejahtera. Sungguh suatu persamaan garis hidup yang bisa membuat kami mabok bareng untuk meratapinya. Setelah diusut ternyata catatan kriminal saya dan Ricky juga sama. Sama-sama pernah ngambil buku rentalan dengan cara ga dikembalikan lagi sesudah nyewa. Hahhaha
Akhirnya dengan berbagai latar belakang, kami merasa lengkap untuk membuat media. Setelah berhari-hari mencari nama yang sesuai, ditetapkanlah nama Papernoise sebagai nama newslatter kita. Sebuah newslatter kecil yang menohok. Yah… hal ini lah salah satunya yang membuat 2011 serasa berkesan buat saya. Mendapat teman baru, lingkungan baru dan pergaulan baru selepas saya pergi merantau tiga tahun karena kuliah.  Bisa dibilang Papernoise adalah gerbang buat saya menjalani rutinitas hidup dan bertetemu orang baru dikehidupan saya. Terimakasih 2011 selamat dating 2012. Semoga tahun depan ga jadi kiamat, soalnya saya belum sempat menonton konser Iggy Pop, Motorhead dan Morrissey.

Minggu, 18 Desember 2011

Turning Point Part I


Tahun 2011 ini meninggalkan kesan yang baik buat saya, bukan karena saya telah lulus dari kampus terkutuk, tapi masih ada hal yang jauh menyenangkan dari itu. Dimulai dari hal yang saya sukai, musik. Jangan berpikir tentang kisah cinta Anang-Krisdayanti_Raul Lemos-Syahrini yang absurd sehingga melahirkan lagu yang absurd pula. Ini tentang pergerakan semangat bermusik para musisi dibelahan dunia sana. Pergerakan musik diera 90an, hingga publik pun menyebutnya Britpop.  Kalau bisa dibilang genre, Britpop adalah genre musik yang saya sukai.
Di era sekarang, mungkin Britpop telah pudar, tidak sedikit band beraliran Britpop telah vakum, atau bahkan bubar. Entah mengapa di tahun 2011 ini, para punggawa Britpop terlihat produktif hingga banyak dari mereka mengeluarkan album ditahun ini. Bukan hanya album, band Britpop yang dinyatakan bubar pun kini membuat reoni dan melakukan tur. bahkan di Indonesia.
 Dimulai dengan Beady Eye, band Liam Gallagher dan dua mantan anggota Oasis yang mengeluarkan album Different Gear, Still Speeding di awal tahun. Liam dan teman-temannya sepakat membuat band baru pasca bubarnya Oasis.  Tadinya Liam sempat menamai band barunya itu Oasis 0.2, tetapi dia mengurungkan niatnya dan menamai band barunya Beady Eye. Bukan Liam kalau tidak sesumbar mengenai band barunya. Dia bilang dengan band barunya ini, dia akan memecahkan rekor album terbaiknya Oasis, Definitely Maybe.  Hasilnya? Tidak mengecewakan, meski tidak sesukses Definitely Maybe, Beady Eye mengalami banyak perubahan. Dilihat dari berbedanya musik waktu di Oasis dulu yang terdengar pop dan rock, Beady Eye hadir dengan musik rock n roll. Meski dibeberapa lagu ada sound yang mirip dengan The Beatles dan Oasis. Hal itu tidak bisa dipungkiri karena mungkin karakter musik Oasis masih melekat pada mereka.
Band Inggris berikutnya yang merilis album adalah Radiohead. Thom Yorke sendiri sebenarnya tidak mengakui bahwa bandnya itu Britpop, biar publik saja yang menilai. Tetapi Radiohead hadir di era dimana musisi Inggris menginvasi dunia musik sehingga melahirkan musik Britpop., sehingga publik menempatkan Radiohead dijajaran musisi Britpop. Sebenarnya saya kurang suka mendengarkan Radiohead setelah album mereka yang sangat terpuji, Kid A. Saya mengagumi musikalitas Radiohead, dimana mereka bilang “pasar itu bisa diatur” yang berarti bahwa selera musik pasar itu musisi yang mengatur bukan produser. Radiohead bereksplorasi jauh lebih dalam dari band Inggris lakukan. Sehingga albumnya saat ini, The King of Limb jauh dari catchy. Jangan harap ada lagu yang membuat kalian ber sing-a-long atau sekedar bersenandung. Anda akan disajikan dengan musik berat yang mungkin akan memahami musiknya bila anda giting atau mabuk. Jika subtitusi absurd itu adalah keren maka Radiohead membuat album terkeren di 2011 ini.
Arctic Monkeys adalah band Inggris jenius generasi masa kini yang dapat meramu unsur musik Inggris 90an dan musik kekinian. Setelah kesuksesan album Humbug di tahun 2009 (dan album-album sebelumnya) Arctic Monkeys Membuat Suck It And See di 2011. Berbeda di album Humbug sebelumnya yang berat, Suck It And See hadir lebih ringan. Musik yang mereka mainkan di album ini juga sedikit berbeda. Meski terdedengar sound yang memcirikan Arctic Monkey sekali. Kover album ini yang membuat saya terggelitik. Begitu sederana untuk sebuah karya jenius. Seolah berkata untuk orang yang menanyakan apa makna dibalik kovernya, dan mereka pun menjawab “Suck It And See”.
cover album Suck it and see
 Kasabian menambah daftar panjang band Inggris yang membuat album di tahun ini. Mereka membuat Velocityraptor! Yang gahar. Band yang mempunyai hubungan dekat dengan Oasis ini merubah arasemen lagunya menjadi lebih liar. Liam berkata (sebelum membentuk beady Eye), “di zaman sekarang, band rock terbaik itu hanya ada dua, Oasis dan Kasabian saja”. Meski terdengar sombong hal ini dibuktikan dengan albumnya yang sekarang. Mereka meramu musik sehingga dialbum ini dapat terdengar nuasan purbakala. 
Gorillaz, band animasi yang vokalisnya mirip seperti Andika kangen band merilis album The Fall pertengahan 2011. Band ini dibuat oleh vokalis Blur,dan juga rival abadi Noel Gallagher dari Oasis,  Damon Albarm. Damon mengungkapkan ini album terakhir Gorillaz. Sepertinya Damon sudah bosan dengan Gorillaz, dan mulai focus bersolo karir. Damon dikenal sebagai salah satu musisi jenius abad 21. Tidak sedikit musisi yang mengatakan hal yang serupa. Kejeniusan Damon bisa dilihat di album Gorillaz ini, dimana dia menggarap album ini hanya dengan satu perangkat saja, iPad.
 Seperti yang dijelaskan di paragraf sebelumnya, musisi Inggris tidak hanya menghasilkan album saja. Suede adalah contohnya. Dimulai dari Suede, band yang tidak sengaja mempopulerkan istilah Britpop ini bubar 2003 silam. Personilnya pun meyebar di bebagai negara. Niat reoni mereka diawali dengan Brett Anderson sang vokalis yang mengalami masalah ekonomi. Dia ingin mendapatkan penghasilan kembali setelah uang yang dihasilkan dari Suede sudah semakin menipis. Dia akhirnya berencana reoni, teman-temannya pun menyepakatinya. Tapi dia merasa tidak terhormat kalau uang yang mereka hasilkan itu dari reoni mereka. Akhirnya mereka melakukan reoni untuk mengisi acara amal. Sesudah melakukan hal yang menurut mereka baik, mereka melakukan tur dunia. Indonesia cukup beruntung menjadi negara yang dikunjunginya. Bahkan dua kali!

 

Sayangnya konser kedua yang mereka lakukan disini ada beberapa kendala. Sponsor yang mendatangkan mereka adalah merk ponsel yang banyak digandrungi remaja masa kini. Untuk mendapatkan tiketnya cukup berbelit, yaitu dengan cara membeli tipe ponsel ponsel tertentu, maka akan mendapatkan tiketnya. Tetapi tiketnya bukan secarik kertas seperti tiket pada umumnya. Melaikan berupa data yang akan dikirimkan dengan perantara ponsel tersebut.. Hal ini tentu membuat orang yang ingin menonton konser mereka kesusahan. Bagaimana dengan orang yang sudah memiliki ponsel dengan tipe tersebut? Apa harus beli lagi? Belum lagi dengan konsernya yang tabrak genre, ternyata selain Suede, promotor membawa artis dari Korea. Brett Anderson pun menyatakan keluhannya di atas panggung.

Suede bukan band Britpop satu-satunya yang datang ke Indonesia ditahun ini. Happy Monday juga berkunjung ke Indonesia. Mereka datang untuk acara pesta rock 3 hari, Java Rockin’ Land. Berbeda dengan konser Suede, konser Happy Monday sangat gampang untuk dihadiri. Dan, bukan Suede pula band Inggris yang reoni di tahun ini. Ada The Stone Roses, band Inggris generasi ke dua.  Bersama The Smith dan The Cure, The Stone Roses adalah pelopor musik yang kelak di tahun 90an disebut Britpop. Band Inggris yang reoni berikutnya adalah Black Sabbath. Band yang terbentuk ditahun 1969 dan vakum di tahun 2006 ini bangkit dari tidur panjangnya. Bahkan kabarnya, saat ini mereka telah memasuki studio rekaman. Black Sabbath adalah salah satu band yang sangat perpengaruh di dunia. Contoh besarnya adalah bila tidak ada Black Sabbath, maka tidak ada heavy metal.

Dipertengahan tahun, ada Coldplay yang merilis album Mylo Xyloto. Sebuah album yang tanggung dan terkesan buru-buru di buat oleh Chris Martin dan kawan-kawan. Album ini terlihat sisa dari eksplorasi Coldplay di album yang mungkin suatu saat menjadi karya terbaiknya Viva La Vida. Sepertinya Chris Martin ingin seperti Thom Yorke dengan mencoba bereksplorasi dengan instrumen-instrumen lain. Tetapi Coldplay lebih bermain aman dan lebih enak didengar. Jujur saya malah merindukan Coldplay di era album Parachute dibanding album tahun ini.  
Pertengahan tahun 2011 disemarakan juga oleh album Noel Gallagher. Setelah perpecahan Oasis yang diawali dengan pertikaian dia dan adiknya,  Leader Oasis ini mencoba bersolo karir dengan nama Noel Gallagher's High Flying Birds, dan albumnya High Flying Birds. Noel mengaku bahwa materi album ini adalah materi yang sama album Oasis era Definitely Maybe dan (What's The Story) Morning Glory? dimana era tersebut adalah era terbaiknya Oasis. Sebelum album ini di rilis, dia melempar videoklip “The Death You And Me” dengan konsep bersambung. Tidak tanggung-tanggung, selain merilis album, dia juga merilis 2 single, satu vinyl dan satu lagu B-side yang semuanya saling melengkapi di High Flying Bird. Di album ini terdapat lagu yang sama dengan lagu Live Forever dan Champaign Supernova. Sebuah lagu yang membuat Noel di juluki “Chief” bahkan “God”. 

Akhir tahun 2011 ditutup oleh album National Treasures (The Compelete Single) oleh Manic Street Preachers. Album ini berisikan 38 lagu dari 9 albumnya selama 19 tahun berkarya.  Manic Street Preachers dikenal dengan musik rock atau indie pop yang liriknya sangat provokatif.  Dalam segi musik, 2011 sangat menyenangkan buat saya. Disamping musisi internasional, musisi dalam negeri pun banyak membuat album yang saya sukai di tahun ini. Semoga 2012 nanti Blur jadi reoni dan membuat album baru. Atau bahkan Oasis yang reoni? Kalau pun 2012 kiamat seperti yang diisukan, setidaknya saya sudah mendegar album baru Blur.